Kebun Bunga Nuansa Jepang PASUCEN
TRANGKIL – Memiliki konsep unik, kebun bibit tanaman Yutaka Farm di Desa Pasucen, Trangkil, Pati kini menjadi favorit wisatawan lokal Pati maupun luar kota. Kebun milik Andi Lestari ini dilengkapi spot swafoto ala Jepang, lengkap dengan baju kimono asli Jepang, serta layanan fotografi berkelas.

Sang Pemilik tidak mengira kebun bibit yang dikelolanya sejak setahun lalu, kini menjadi buah bibir.
“Sebelumnya hanya bibit tanaman biasa didatangi orang yang ingin mencari bibit. Kemudian saya putar otak bagaimana bibit tanaman itu bisa menjadi wisata edukasi tanaman yang menarik warga. Akhirnya saya membuat konsep melengkapi kebun bernuansa ala Jepang,” ungkapnya.
“Sebelumnya hanya bibit tanaman biasa didatangi orang yang ingin mencari bibit. Kemudian saya putar otak bagaimana bibit tanaman itu bisa menjadi wisata edukasi tanaman yang menarik warga. Akhirnya saya membuat konsep melengkapi kebun bernuansa ala Jepang,” ungkapnya.
Sementara untuk konsep spot swafoto ala Jepang dan penyewaan kimono baju tradisional Jepang baru tiga bulan dirancangnya. Hasilnya, dengan konsep itu, ia berhasil menarik wisatawan lokal dan luar daerah.
Pada kebun bibit Yutaka Farm, nuansa Jepang kental terasa dari adanya bunga sakura, tulisan kanji jepang, alat musik khas jepang, payung khas jepang hingga kimono asli Jepang.
">

“Saya membeli baju kimono langsung dari Jepang melalui pemuda pesisir Pati yang magang di Jepang. Hingga saat ini saya sudah mempunyai 16 baju kimono berbagai warna dengan ukuran dewasa dan anak-anak. Satu baju kimono harganya kurang Rp 5 juta. Warga yang ingin swafoto gratis. Hanya membayar jika menyewa baju kimono dan memakai jasa foto,” jelas pria yang kini aktif di Organization for Industrial and Culture Advancment (OISCA) Pati. Organisasi yang bergerak di bidang lingkungan itu berpusat di Jepang.
Tak sia-sia, upaya kreatifnya kini membuahkan hasil. Pada hari biasa dikunjungi 100 orang lebih, sedangkan pada weekend wisatawan yang berkunjung bisa mencapai 300 orang lebih. Sebagian warga yang datang membeli bibit tanamannya.
“Terlepas dari semua itu, saya ingin mengajak warga kembali ke alam dan mengkampanyekan tanaman. Di kebun saya itu ada 200 lebih bibit tanaman buah dan bunga. Setiap bibit ada tulisan jenis tanaman. Sehingga warga yang datang juga bisa mengenal nama dan jenis tanaman,” kata Andi sambil berujar akan memperluas lagi area kebunnya.
Uniknya lagi, meski Yutaka Farm itu miliknya, namun dia berbagi rejeki dengan menggandeng parkir, jasa foto, dan para penjual makanan.
Jika terus berinovasi kreatif bukan tidak mungkin Yutaka Farm juga bisa menjadi rujukan wisata di Pati.
Komentar
Posting Komentar